Bagaimanakah spesifikasi/standar teknis fasilitas perlengkapan jalan? (rambu, marka, Guard rail,paku jalan, delinenator, cermin tikungan). #72

Oktober 18, 2013
Print Friendly

Berdasarkan Lampiran Surat Dirjen Perhubungan Darat Nomor : AJ.003/5/9/DRJD/2011 tanggal 21 Juni 2011 tentang spesifikasi teknis alat perlengkapan jalan, adalah sebagai berikut:

Marka Jalan

  1. Bahan Marka
  • Thermoplastic

Jenis bahan untuk marka jalan yang digunakan harus  bahan tidak licin dan memantulkan cahaya pada malam hari ( Retroreflektif ) bila terkena sinar lampu kendaraan dan memenuhi standar rujukan minimal :

  1. AASHTO M 247 – 81 untuk butiran kaca (GLASS BEAD).
  2. AASHTO M 249 – 79 untuk cat THERMOPLASTIC

Bahan marka jalan jenis thermoplastic terdiri atas 4 (empat) komponen dengan komposisi sebagai berikut:

  1. Binder
  2. Glass beads
  3. Titanium dioxide (TiO2)
  4. Calcium Carbonate dan inert Filler

Waktu pengeringan setelah diaplikasikan pada permukaan jalan dengan ketebalan 3 mm, tidak lebih dari 10 menit pada suhu udara  32 ± 2ºC.

Marka jalan  harus memiliki tingkat retroreflektif minimal 200 mcd/m2/lux (warna putih maupun kuning) pada umur 0-6 bulan setelah aplikasi. Pada akhir tahun ke-2 tingkat retroreflektif minimal 100 mcd/m2/lux.

Catatan:

Tingkat retroreflektif diukur pada siang hari maupun malam hari dengan alat retroreflektometer pada kondisi jalan kering. Pengukuran dilakukan saat 0-1 bulan dan pada bulan ke 6 setelah diaplikasikan.

Retroreflektor adalah bagian dari lapisan rambu dan marka lalu lintas yang berfungsi dalam memantulkan cahaya ke sumbernya (kendaraan) sehingga dapat terlihat dengan jelas tanpa membuat silau pengemudi kendaraan.

Pengujian retroreflektometer merupakan pengujian daya pantul dari lapisan rambu dan marka lalu lintas. Pengujian menggunakan alat ukur digital otomatis ukuran kecil (handheld) sehingga pengukuran langsung di lapangan hanya memerlukan waktu yang singkat. Retroreflektometer mengacu pada ASTM E1709-09 Standard Test Method for Measurement of Retroreflective Signs Using a Portable Retroreflectometer at 0,2 Degree Observation Angle.

                                                  Alat Uji retroreflektometer

Bahan yang digunakan dalam spesikasi ini tidak boleh lebih dari 1 Tahun dari tanggal produksi (tidak kadaluarsa).

Setiap bahan Marka yang akan dipergunakan harus lulus uji laboratorium dengan menunjukkan sertifikat uji Laboratorium berskala Nasional atau Internasional.

Pengujian yang dilakukan pada laboratorium uji marka jalan adalah untuk melakukan pengujian kekentalan cat marka jalan dengan alat viscometer stometer. Hal ini dilakukan untuk menentukan nilai kekentalan cat, guna keperluan pelaksanaan pengecatan di lapangan.

Teknis pengujian marka jalan di laboratorium uji marka jalan adalah sebagai berikut:

  • Benda uji

Benda uji cat diambil dari contoh uji yang telah diaduk hingga merata sebanyak 2 x 300 ml.

  • Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut:

  • 1 set alat viscometer stormer dan pada waktu akan digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu;
  • Cawan benda uji ukuran diameter dalam 85 mm, kapasitas 500 ml;
  • Termometer berskala 0,1 derajat C;
  • Penunjuk waktu ketelitian 0,2 detik.
  • Pengaduk dengan ketelitian pengukuran 0,1 mm;
  • Beban ukuran berat 5 gram sampai 1000 gram.
  • Bahan

Bahan yang digunakan untuk kalibrasi alat adalah oli standar, yaitu diantaranya  silicone, hidrokarbon, linseed, castor, yang mempunyai kekentalan dari 4 poise  (70KU) sampai 14 poise (95 KU).

  • Perhitungan

Perhitungan yang dugunakan adalah sebagai berikut:

Perhitungan beban yang digunakan untuk mendapatkan putaran 200 rpm dari standar oli untuk kalibrasi alat dengan rumus sebagai berikut:

Ketelitian

  • Perbedaan hasil uji dari 2 pelaksana di laboratorium yang sama tidak boleh lebih dari 3% terhadap berat (gram) atau 1,5% terhadap nilai kekentalan (KU);
  • Perbedaan hasil antara 2 laboratorium tidak boleh lebih dari 10% terhadap berat (gram) atau 4% terhadap nilai kekentalan (KU).

Langkah-langkah dalam pengujian kekentalan cat marka jalan adalah sebagai berikut:

  • Lepaskan pengaduk dan pemegang beban dari alat, pastikan tali pengikat beban dapat berfungsi dengan baik;
  • Ikatkan beban seberat 5 gram pada tali dan lepaskan tombol penekan putaran (rem), bila dengan beban terssebut petunjuk putaran dapat berputar dengan baik, alat dapat digunakan;
  • Pasang kembali pengaduk dan pemegang beban pada keadaan semula, pilih 2 oli  standar yang telah diketahui kekentalannya, atur temperature oli dan alat pada (25 +0,2) derajat Celcius, bila temperature telah tercapai, aduk hingga homogen, tuang ke dalam cawan benda uji hingga tanda batas dan letakkan pada dudukan cawan.
  • Letakkan beban pada pemegang beban, lepaskan penekan putaran (rem) hingga  dengan beban tersebut menghasilkan 100 putaran dengan jangka waktu antara 27 sampai 33 detik. Bila tidak tercapai putaran tersebut, atur berat beban hingga  memenuhi ketentuan tersebut;
  • Bila selisih beban yang dihitung pakai rumus (1) dengan beban yang didapat dari  pengujian alat pengujian alat tidak berbeda lebih dari 15%, alat viscometer dapat dipakai;
  • Ulangi langkah no. 4 dan 5 dengan mengganti oli standar dengan benda uji cat,  sampai diperoleh berat beban yang menghasilkan 100 putaran dalam jangka waktu 27 sampai 33 detik, catat berat beban dan waktunya;
  • Hitung nilai kekentalan (Kerbs Unit).

  • Cold Plastic

Jenis bahan dasar/resin yang digunakan untuk campuran cat adalah MMA (Methacrylate), Bahan tidak licin dan memantulkan cahaya pada malam hari  ( Retroreflektif ) bila terkena sinar lampu kendaraan dan memenuhi standar rujukan  minimal :

  1. AASHTO M 247 – 81          untuk butiran kaca (Glass bead)
  2. BS   :   EN 1871                     untuk material Cold plastic.

Bahan warna pigmen mempunyai daya tahan luar cukup lama (minimal 2 tahun).

Waktu pengeringan setelah diaplikasikan pada permukaan jalan dengan ketebalan 2 mm, tidak lebih dari 20 – 30 menit.

Marka jalan  harus memiliki tingkat retroreflektif minimal 200 mcd/m2/lux (warna putih maupun kuning) pada umur 0-6 bulan setelah aplikasi. Pada akhir tahun ke-2 tingkat retroreflektif minimal 100 mcd/m2/lux.

Catatan:

Tingkat retroreflektif diukur pada siang hari maupun malam hari dengan alat retroreflektometer pada kondisi jalan kering. Pengukuran dilakukan saat 0-1 bulan dan pada bulan ke 6 setelah diaplikasikan pada permukaan jalan.

Bahan yang digunakan dalam spesikasi ini tidak boleh lebih dari 1 Tahun dari tanggal produksi (tidak kadaluarsa). Setiap bahan Marka yang akan dipergunakan harus lulus uji laboratorium dengan menunjukkan sertifikat uji Laboratorium berskala Nasional atau Internasional.

Seperti halnya harus terlihat oleh pengemudi, adalah penting pula bahwa marka-marka itu sendiri tidak menimbulkan suatu bahaya kepada kendaraan-kendaraan atau menyebabkan para pengemudi kehilangan kendali terhadap kendaraannya. Marka jalan tidak boleh menonjol lebih dari 66 mm diataspermukaan jalan (kecuali untuk paku-paku jalan dimana tidak boleh menonjol lebih dari 15 mm kecuali apabila menggunakan pemantul cahaya, dimana tidak boleh menonjol lebih dari 25 mm).

Bentuk-bentuk dari marka jalan yaitu sebagai berikut:

Rambu Lalu Lintas

  • Bahan dan Ukuran

Persyaratan teknis daun rambu adalah sebagai berikut :

  1. Bahan
  •   Plat Alumunium

Plat alumunium memiliki ketebalan minimal 2,0 mm (termasuk reflective sheeting).

  • Bahan logam lainnya

Bahan logam lainnya merupakan bahan logam tertentu selain alumunium dengan syarat :

  1. Bersifat anti karat, dengan atau tanpa lapisan anti karat, termasuk bagian berlubang untuk baut;
  2. Mempunyai tebal minimal 0,8 mm.
  • Bahan komposit alumunium composite panel (ACP) dengan ketebalan minimal 3,0 mm.
  • Bahan Non Logam

Bahan non logam merupakan bahan non logam tertentu dengan syarat-syarat bahan :

  1. Mempunyai ketahanan terhadap: 

     

     

     

     

     

     

    • cuaca, dengan metode uji setara ASTM G.53-88;
    • kelembapan  nisbi, dengan metode uji setara ASTM D.2247-87;
    • asam, dengan metoda uji setara ASTM D.1308-87;
    • kelapukan;
    • uji mekanik meliputi, daya lengkung dan patah.
  1. Mempunyai tebal minimal 2,0 mm.
  1. Ukuran daun rambu mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.61 Tahun 1993 Tentang Rambu-Rambu Lalu Lintas di Jalan.
  1. Permukaan bagian depan  harus dibubuhi inisial ”Perhubungan” atau logo perhubungan dan Pada bagian belakang daun rambu dibubuhi Stiker perlengkapan jalan tulisan sumber pendanaan, tahun anggaran dan isi pasal 275 UU Nomor 22/2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, contoh gambar sebagai berikut :

Logo Perhubungan pada Rambu Lalu Lintas

 

Lembaran Reflektif

  • Lembaran reflektif memiliki ketentuan sebagai berikut:

MUTCD (Manual On Uniform Traffic Control Devices)

Berdasarkan pedoman perlengkapan jalan (MUTCD), waktu yang diperlukan untuk melihat dan dan bereaksi atas rambu adalah penjumlahan waktu yang diperlukan untuk Persepsi (Perception), Identifikasi (Identification), Emosi (Emotion/ Decision making) dan Eksekusi (Volition/Execution of decision) dinamakan waktu PIEV. Waktu PIEV dapat bervariasi dari beberapa detik untuk rambu umum sampai 6 detik atau lebih untuk rambu peringatan yang terpasang di Jalan raya tergantung dari kondisi fisik dan mental penguna jalan.

ASTM D4956 (American Society For Testing Materials)

Berdasarkan hasil uji bahan perlengkapan jalan (ASTM D4956) terdapat pengelompokan jenis lembaran reflektif rambu lalu lintas. Tipe I, II dan III adalah material retroreflektif yang menggunakan bahan glassbead. Sedangkan tipe IV, V, VI, VII, VIII, IX, X dan XI adalah material retroreflektif yang menggunakan teknologi mikroprismatik. Semakin tinggi tipe dalam ASTM semakin tinggi nilai retroreflektifitas material tersebut.

Berikut ini adalah  material retroreflektif yang dapat digolongkan berdasarkan tabel dibawah ini :

Tabel ASTM

    Tipe I lembar reflektifª

 

                                                             Tipe II lembar reflektifª

                                                             Tipe III  lembar reflektifª

                     

Nilai sudut pengamatan 0.1 adalah persyaratan tambahan yang hanya berlaku bila dispesifikasikan oleh pembeli atau dalam kontrak.

                                                        Tipe IV lembar reflektifª

Nilai sudut pengamatan 0.1 adalah persyaratan tambahan yang hanya berlaku bila dispesifikasikan oleh pembeli atau dalam kontrak.

                                        Tipe V  lembar reflektifª

Nilai sudut pengamatan 0.1 adalah persyaratan tambahan yang hanya berlaku bila dispesifikasikan oleh pembeli atau dalam kontrak.

                                        Tipe VI lembar reflektifª

Nilai sudut pengamatan 0.1 adalah persyaratan tambahan yang hanya berlaku bila dispesifikasikan oleh pembeli atau dalam kontrak.

                                                        Tipe VII  lembar reflektifª

Nilai sudut pengamatan 0.1 adalah persyaratan tambahan yang hanya berlaku bila dispesifikasikan oleh pembeli atau dalam kontrak.

                                                        Tipe VIII lembar reflektifª

 

Nilai sudut pengamatan 0.1 adalah persyaratan tambahan yang hanya berlaku bila dispesifikasikan oleh pembeli atau dalam kontrak.

                                                        Tipe XI  lembar reflektifª

Nilai sudut pengamatan 0.1 adalah persyaratan tambahan yang hanya berlaku bila dispesifikasikan oleh pembeli atau dalam kontrak.

Dengan demikian persyaratan teknis lembaran reflektif rambu lalu lintas sebagai berikut :

  1. Rambu  Lalu Lintas Standar
  • Minimal memiliki nilai retroreflektif  ASTM  Tipe II berdasarkan tabel diatas.
  • Khusus untuk rambu larangan berupa kata-kata dengan warna dasar putih dan tulisan warna merah, nilai retroreflektif untuk warna merah harus lebih tinggi daripada nilai retroreflektif warna putih. Nilai retroreflektif warna putih minimal 70 (Ra) (cd.lx-1.m-2);
  • Permukaan lembaran reflektif rata dan halus serta bagian belakang dilengkapi dengan perekat (precoating adhesive);
  • Warna mengacu pada Keputusan Menhub Nomor : KM. 61 Tahun 1993 dan lampirannya tentang Rambu – Rambu Lalu Lintas di Jalan.
  1. RPPJ
  • Minimal memiliki nilai retroreflektif  ASTM  Tipe IV berdasarkan tabel diatas;
  • Permukaan lembaran reflektif rata dan halus serta bagian belakang dilengkapi dengan perekat (precoating adhesive);
  • Warna mengacu pada Keputusan Menhub Nomor : KM. 61 Tahun 1993 dan lampirannya tentang Rambu – Rambu Lalu Lintas di Jalan.

 

Tiang Rambu

  1. Bahan Tiang Rambu 

     

     

     

     

     

     

    Bahan logam dengan syarat :

  • Berbentuk pipa bulat, pipa segi delapan, besi profil H atau besi profil U;

  • Bersifat anti karat, dengan atau tanpa lapisan anti karat;

  • Harus berbentuk batangan utuh atau tidak bersambung.

Bahan Beton dengan syarat :

  • Berbentuk bulat atau H;
  • Ukuran sesuai dengan bahan besi atau sesuai standart konstruksi Indonesia.
  • Campuran semen, pasir dan batu split perbandingan (1 : 2 : 3), sesuai standart konstruksi Indonesia beton K250.

Jenis konstruksi tiang rambu dengan bahan logam terdiri dari :

  • Tiang tunggal

Jenis dan Ukuran :

  • Pipa bulat diameter minimal 55 mm (2”),  dengan tebal minimal 2 mm;
  • Besi profil H Np.80 mm;
  • Besi profil U ukuran 25x80x25 (Np.80 mm) tebal 5 mm.

Pipa bulat dapat diisi cor beton praktis 1 : 2 : 3 (sesuai standard konstruksi Indonesia) atau ditutup dengan plat besi atau bahan sejenis, sehingga air tidak dapat masuk ke dalam pipa;

Angkur bawah terdiri dari minimal 2 batang besi siku 3x30x30 mm yang dilas pada tiang rambu dengan bersilang atau besi beton yang  masuk menyilang kepipa;

Rangka rambu tempat menempelkan daun rambu Menggunakan besi siku minimal 3x30x30 mm yang satu sisinya vertikal menghadap kedepan, dan sisi lainya horizontal masuk ketiang dan dilas rapat.

  • Bentuk tiang huruf F

Jenis dan ukuran:

  1. Pipa bulat diameter minimal 150 mm (6”) dengan tebal minimal   2,8 mm;
  2. Pipa segi delapan dengan ukuran ekivalent pipa bulat.

Pipa bulat dapat diisi cor beton praktis 1 : 2 : 3 (sesuai standard konstruksi Indonesia) atau ditutup dengan plat besi atau bahan sejenis, sehingga air tidak dapat masuk ke dalam pipa;

Bagian bawah diberi sepatu (tapakan) dengan besi plat tebal minimal 12 mm lalu dilas ketiang secara penuh dengan diberi plat besi untuk penegak yang dilas secara penuh ketapakan dan tiang, dipasang dengan angkur baut. Bagian bawah terdiri dari minimal 4 buah angkur baut dengan besi beton ukuran diameter 19 mm dan panjang 600 mm. Struktur rangka beton pondasi sebagaimana gambar;

Rangka rambu tempat menempelkan daun rambu menggunakan besi siku minimal 3x30x30 mm atau disesuaikan ukuran rambu yang dilas pada tiang rambu secara bersilangan;

Sambungan tiang rambu dengan lengan daun rambu (flange dan rib plate) menggunakan pengikat untuk memperkuat sambungan menjadi kaku dan kuat.

  • Kupu-kupu dengan tiang tunggal menggunakan:

Jenis dan ukuran:

  • pipa bulat diameter minimal 110 mm dengan tebal 2.8 mm atau disesuaikan ukuran rambu;
  • Pipa segi delapan dengan ukuran ekivalent pipa bulat.

Pipa bulat dapat diisi cor beton praktis 1 : 2 : 3 (sesuai standard konstruksi Indonesia) atau ditutup dengan plat besi atau bahan sejenis, sehingga air tidak dapat masuk ke dalam pipa;

Bagian bawah diberi sepatu (tapakan) dengan besi plat tebal minimal 12 mm lalu dilas ketiang secara penuh dengan diberi plat besi untuk penegak yang dilas secara penuh ketapakan dan tiang, dipasang dengan angkur baut. Bagian bawah terdiri dari minimal 4 buah dengan besi beton diameter 19 mm dan panjang 600 mm. Atau disesuaikan ukuran rambu;

Rangka rambu tempat menempelkan daun rambu menggunakan besi siku minimal 3x30x30 mm atau disesuaikan ukuran rambu yang dilas pada tiang rambu secara bersilangan;

Sambungan tiang rambu dengan lengan daun rambu (flange dan rib plate) menggunakan pengikat untuk memperkuat sambungan menjadi kaku dan kuat;

Ketinggian rambu mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.61 Tahun 1993 Tentang Rambu Rambu Lalu Lintas di Jalan.

  • Portal atau gantri dengan tiang ganda atau lebih menggunakan: 

     

     

     

     

     

     

    Jenis dan ukuran:

  1. Pipa bulat diameter minimal 250 mm (10”) dengan tebal minimal 2,8 mm;
  2. Pipa segi delapan dengan ukuran ekivalent pipa bulat.

Bagian bawah diberi sepatu (tapakan) dengan besi plat tebal minimal 22 mm lalu dilas ketiang secara penuh dengan diberi plat besi untuk penegak yang dilas secara penuh ketapakan dan tiang, dipasang dengan angkur baut. Bagian bawah terdiri dari minimal 6 buah dengan besi beton diameter 22 mm dan panjang 1000 mm. Atau disesuaikan ukuran rambu;

Rangka rambu tempat menempelkan daun rambu menggunakan besi siku 3x30x30 mm yang dilas pada tiang rambu secara bersilangan;

Sambungan tiang rambu dengan lengan daun rambu (flange dan rib plate) menggunakan pengikat untuk memperkuat sambungan menjadi kaku dan kuat.

Ketinggian rambu mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.61 Tahun 1993 Tentang Rambu Rambu Lalu Lintas di Jalan.

 

Setiap bahan Rambu yang akan dipergunakan harus lulus uji laboratorium dengan menunjukkan sertifikat uji Laboratorium berskala Nasional atau Internasional.

Tata Cara Penempatan

Tata cara penempatan rambu lalu lintas mengacu pada Keputuan Menteri Perhubungan Nomor: KM 61 Tahun 1993 tentang Rambu – Rambu Lalu Lintas Jalan;

Khusus RPPJ yang menunjukkan lokasi/tempat (warna dasar hijau huruf putih) harus memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Menunjuk lokasi yang umum dan perlu bagi masyarakat  seperti bandara, rumah sakit, nama kota, situs, dan lain-lain yang sejenis;
  2. Lokasi yang ditunjuk bersifat tetap atau tidak berubah-ubah dalam waktu panjang;
  3. Untuk RPPJ yang menunjuk 2 (dua) atau lebih tempat/kota yang letaknya berurut berlaku ketentuan tempat/kota yang paling dekat dituliskan paling atas diikuti tempat/kota yang lebih jauh dibawahnya dan yang paling jauh dibawahnya lagi.

Tata Cara Pemasangan

Pemasangan rambu lalu lintas jalan meliputi kegiatan :

  1. Peletakan daun rambu pada tiang rambu;

Daun rambu yang telah dilapisi dengan lembaran reflektif, diletakan pada tiang rambu dengan menggunakan baut yang dikencangkan.

Pembuatan pondasi dan peletakan rambu untuk rambu tiang tunggal dengan syarat :

  • Ukuran pondasi rambu dibentuk dengan papan untuk bekesting dan setiap tiang masing-masing berukuran :
  • Pengecoran di luar

  • Pengecoran setempat

 

  • Bagian tiang rambu yang terbenam pada pondasi sedalam 600 mm;
  • Bagian dasar galian pondasi diberi lapisan pasir yang dipadatkan dengan ketebalan 100 mm;
  • Pondasi beton dibuat dari campuran semen, pasir dan batu kerikil/split dengan perbandingan 1:2:3;
  • Bagian pondasi diatas permukaan tanah setinggi 100 mm.

Pembuatan pondasi dan peletakan rambu sebagaimana untuk jenis konstruksi  tiang  rambu tiang f, kupu-kupu:

  • Ukuran pondasi rambu dibentuk dengan papan untuk bekesting dan setiap tiang masing-masing berukuran :

  • Bagian dasar pondasi diberi lapisan pasir yang dipadatkan setebal 150 mm.
  • Pondasi beton terbuat dari beton tulangan kualitas campuran K 250 dengan ukuran  600 x 600 x 1000  mm.
  • Pada bagian atas pondasi dipasang plat  logam sejenis dengan tiang rambu  ukuran 400x400x12 mm serta 4 buah angkur baut dengan diameter 19 mm dan panjang 600 mm.
  • Pondasi untuk rambu dengan ukuran dan bentang rangka baja yang besar disesuaikan dengan kondisi kekuatan daya dukung tanah setempat serta beban yang terjadi sehingga dapat dipertanggungjawabkan kekuatannya;
  • Bagian pondasi diatas permukaan tanah setinggi 200 mm atau disesuaikan dengan permukaan tanah dan jalan.

Pembuatan pondasi dan peletakan rambu sebagaimana untuk jenis konstruksi  tiang  rambu portal (ukuran bentang 18 m):

  • Ukuran pondasi rambu dibentuk dengan papan untuk bekesting dan setiap tiang masing-masing berukuran  :

  • Bagian dasar pondasi diberi lapisan pasir yang dipadatkan setebal 150 mm.
  • Pondasi beton terbuat dari beton tulangan kualitas campuran K 250 dengan ukuran 800 x 800 x 1800 mm.
  • Pada bagian atas pondasi dipasang plat  logam sejenis dengan tiang rambu  ukuran 650x650x22 mm serta 6 buah angkur baut dengan diameter 22 mm dan panjang 1000 mm.
  • Pondasi untuk rambu dengan ukuran dan bentang rangka baja yang besar disesuaikan dengan kondisi kekuatan daya dukung tanah setempat serta beban yang terjadi sehingga dapat dipertanggungjawabkan kekuatannya;
  • Bagian pondasi diatas permukaan tanah setinggi 200 mm atau disesuaikan dengan permukaan tanah dan jalan.

Spesifikasi Rambu Lalu Lintas Standar

Spesifikasi RPPJ Tiang F

Spesifikasi RPPJ Tiang Kantilever

Pita Penggaduh (Rumble Strips)

  • Bahan Pita Pengaduh
  1. Pita penggaduh  dapat menggunakan bahan marka jalan.
  2. Setiap bahan Pita Penggaduh yang akan dipergunakan harus lulus uji laboratorium dengan menunjukkan sertifikat uji Laboratorium berskala Nasional atau Internasional.
  • Bentuk, Ukuran, Warna Dan Tata Cara Penempatan
  1. Bentuk, ukuran, dan tata cara penempatan pita penggaduh mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan.
  2. Pita penggaduh berwarna putih reflektif.
  3. Pita penggaduh dapat berupa suatu marka jalan atau bahan lain yang dipasang melintang jalur lalu lintas dengan ketebalan maksimum 4 cm;
  4. Lebar pita penggaduh minimal 25 cm dan maksimal 90 cm;
  5. Jumlah pita penggaduh minimal 4 buah;
  6. Jarak antara pita penggaduh minimal 50 cm dan maksimal 500 cm;
  7. Bentuk pita penggaduh sesuai dengan gambar;
  8. Jumlah dan jarak pita penggaduh yang dipasang sesuai hasil kajian manajemen dan rekayasa lalu lintas.

Gambar Teknis Pita Penggaduh

Pagar Pengaman (Guard Rail)

  • Ukuran Pagar Pengaman Jalan
  1. Lempengan besi (beam) adalah merupakan suatu plat besi yang bergelombang dan memanjang dimana pada bagian ujungnya  disambungkan dengan lempengan besi yang melengkung dan  biasa disebut lempengan besi/terminal end. Lempengan besi mempunyai ukuran-ukuran minimal sebagai berikut :
  • Penampang melintang:

Tebal                    : 2,67 mm
Lebar                   : 312  mm
Tebal lekukan       : 83    mm
Jari-jari lekukan    :  240 mm

  • Panjang lempengan :

Panjang total lempengan :  4.300 mm
Pajang efektif lempengan :  4.000 mm

  • Lengan Lempengan besi:
  1. Penampang melintang sesuai dengan ukuran lempengan besi (beam)
  2. Penampang memanjang dengan ukuran minimal:

Panjang total                  :  725 mm
Panjang efektif                : 540 mm
Jari-jari lekukan luar        : 240 mm
Jari-jari lekukan dalam     : 580 mm
Tebal lekukan                 : 250 mm

Tiang penyangga (post) adalah merupakan suatu tiang berbentuk “letter U” yang kokoh dengan ketebalan penampang plat 4.5 – 6 mm dan berfungsi untuk menegakkan dan memperkokoh berdirinya lempengan besi. Tiang penyangga mempunyai ukuran minimal sebagai berikut :

lebar          : 180 mm
ketebalan    : 4,5 – 6 mm
Panjang total    : 1.800 mm
Tiang efektif diatas permukaan tanah terhadap lempengan besi : 655 mm
Besi Pengikat (blocking) adalah profil baja berbentuk “letter U” dengan ketebalan penampang plat minimal 6 mm, panjang 300 mm, lebar 180 mm dan ketebalan blocking 6 mm, yang berfungsi sebagai pengikat antara tiang penyangga dengan lempengan besi (beam).

Bahan Pagar Pengaman Jalan

  • Lempengan besi dan Tiang penyangga (post)

Terbuat dari tipe Pelat Baja Gelombang Lapis Seng Pagar Pengaman (Flex Beam Guard Rail) dimana mempunyai ukuran sebagai berikut :

Sumber : SNI

  • Syarat mutu bahan plat baja harus memenuhi sebagai berkut :

  • Lengan lempengan besi (sleeve beam) mempunyai bahan yang sama dengan lempengan besi (beam);
  • Ukuran Baut Baut yang digunakan untuk sambungan plat baja gelombang lapis seng harus memenuhi seperti tabel berikut :

Ukuran dan Toleransi

  • Besi pengikat (bracket) adalah berupa baut  jenis payung dan mur diameter 16 mm untuk beam, baut jenis payung dan mur diameter 16 mm untuk bloking dan baut  dan mur jenis hexagonal diameter 16 mm untuk tiang serta besi pengikat yang berfungsi untuk penyambung dan melekatkan lempengan besi ke tiang penyangga dengan mempunyai bahan yang sama dengan lempengan besi (beam);
  • Pada bagian belakang lempengan besi (beam) dan terminal end dibubuhi Stiker perlengkapan jalan tulisan sumber pendanaan, tahun anggaran dan isi pasal 275 UU Nomor 22/ 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
  • Setiap bahan pagar pengaman yang akan dipergunakan harus lulus uji laboratorium dengan menunjukkan sertifikat uji Laboratorium berskala Nasional atau Internasional.

Warna Pagar Pengaman Jalan

  • Pagar pengaman jalan (tiang-tiang penyangga, lempengan-lempengan besi dan lengan lempengan besi) tetap menggunakan warna asli.
  • Pada setiap lempengan/beam pagar pengaman dipakukan bahan yang sifatnya memantulkan cahaya (reflector)  jenis engineering grade dengan jarak per 4 meter ditengah-tengah beam, dengan ketentuan :
- Sebelah kanan arah arus lalu lintas, berwarna putih.
- Sebelah kiri arah arus lalu lintas, berwarna merah.
Pemasangan Pagar Pengaman Jalan
  • Pemasangan Tiang Penyangga

– Pembuatan lubang pondasi kedalaman dan dasar lubangnya disesuaikan dengan gambar (1.145 x 600 x 600) mm;

– Pada bagian tiang yang tertanam ditanah harus dipasang angkur paling sedikit 3 (tiga) buah;

– Untuk melindungi tiang dari kemungkinan turun, dasar lubang harus dikeraskan dengan lapisan pasir padat minimal setebal 100 mm;

– Tiang penyangga harus dipasang pada posisi tegak lurus;

– Lubang dicor dengan adukan perbandingan semen, pasir dan koral 1:2:3;

– Tanah di pinggir pondasi dipadatkan dengan alat pemadat (stamper);

– Bagian pondasi yang menonjol diatas permukaan tanah 100 mm.

Pemasangan tiang penyangga merupakan pekerjaan pemasangan pagar pengaman yang harus dilakukan secara cermat dan teliti, untuk itu perlu pemerikasaan ketinggian dan jarak sampai akurasi 10 mm (1 cm).

  • Pemasangan lempengan besi

– Lempengan besi direntangkan antara 3 (tiga) tiang dan lubang tempat penyambungan diletakan sesuai dengan pemasangannya. Bila menggunakan besi siku penyambung (bracket), besi ini diletakan pada tempatnya;

– Setiap 2 (dua) lempengan besi yang berdampingan diikat pada satu tiang dengan menggunakan baut dan mur yang sesuai untuk pengamanan baut dapat dibengkokkan atau dilas;

– Apabila pada kondisi dimana penempatan Pagar Pengaman Jalan menikung agar menggunakan lempengan besi (Beam) yang melengkung untuk memudahkan pengikatan lempengan besi (beam) pada tiang (post) yang dikombinasikan dengan pemasangan rambu “ Chevron ” ( Tabel I no. 1i dan 1j ), disesuaikan dengan bentuk tikungan.

-Semua baut yang terpasang harus dimatikan sehingga tidak bisa lepas.

Pada kedua ujung pagar pengaman jalan dapat dilekukan sampai permukaan tanah atau diberi pengaman untuk keselamatan pemakai jalan.

Pemeriksaan Akhir

  • Kekuatan berdirinya tiang penyangga
  • Ketepatan penyambungan antara lempeng besi dengan lempengan besi atau lempengan besi dengan lengan lempengan besi (sleeve beam)

 

Comments are closed.